THE EQUATOR Vol.7/No. 3 Juli-Agustus 2019

Rambutnya berubah menjadi hamparan pakis. Darahnya menjadi benih-benih padi. Rusuk menjadi pisang, gigi menjadi jagung dan potongan-potongan tubuh lainnya menjadi hasil alam yang melimpah. Begitulah Hominodun menyelamatkan umat manusia dari bencana kelaparan dan kekeringan.

Cerita ini merupakan cerita pertama yang saya dengar di hari pertama menjalani residensi di kota Kinabalu (Sabah, Malaysia), sebuah kota yang berada dalam kesatuan pulau Borneo bersama dengan Brunei Darussalam dan provinsi Kalimantan (Indonesia). Berbeda dengan pembangunan pesat Malaysia di daerah Semenanjung atau Kuala Lumpur, tidak banyak gedung-gedung pencakar langit atau mall-mall besar di Sabah. Di berbagai sudut kota hanya ada bangunan tua peninggalan perang dunia ke 2,  pertokoan beberapa lantai dan selalu ada kedai-kedai masakan Cina atau India di setiap bloknya. Tidak jauh dari Kota Kinabalu, juga masih banyak terdapat daerah pinggiran atau pedesaan dengan arsitektur bangunan berupa rumah kayu yang menandakan identitas masyarakat adat daerah tersebut.  

Jika di Kuala Lumpur yang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian, kelompok masyarakat yang dianggap sebagai mayoritas adalah orang Malay. Orang Malay tidak hanya diartikan sebagai etnis Melayu, namun juga diafiliasikan sebagai kelompok masyarakat beragama Islam. Sabah ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda karena Sabahan (begitu orang Sabah menyebut diri mereka) menyatakan identitasnya sudah sangat membaur dan sulit diidentifikasi secara khusus yang merujuk pada satu etnis atau karakteristik masyarakat tertentu. Jika di Semenanjung kita akan dengan mudah menjumpai etnis Melayu, Cina dan India, akan tetapi di Sabah menjadi lain persoalannya. Penduduk asli Sabah atau dikenal sebagai bumiputera setidaknya terdiri dari 30 kelompok etnis  dengan menggunakan lebih dari 50 bahasa dan 90 dialek.

Mayoritas yang saya temui merupakan etnis Kadazandusun dan Murut di beberapa pasar tradisional yang diselenggarakan setiap 2 kali dalam seminggu seperti di Dongongon, Tamparuli dan Papar. Di pasar Tamparuli, saya juga sempat bertemu dengan orang-orang Jawa yang telah menetap selama 3 generasi sejak zaman penjajahan Jepang sebagai buruh perkebunan. Selain  itu, migrasi orang-orang Philipina (yang hingga kini masih dianggap sebagai penduduk ilegal), orang dayak dari Kalimantan, dan orang Brunei juga menjadikan Sabah sebagai titik temu dari pelbagai bangsa dan kebudayaan.

Percampuran kebudayaan ini bahkan sudah ada sejak di masa lalu karena lokasi geografisnya yang berada di sisi laut Cina Selatan juga membuatnya menjadi salah satu persinggahan jalur perdagangan di Asia Tenggara. Di samping cerita-cerita mengenai bagaimana pedagang Cina dan Inggris memperketat pertahanan karena rentan diserang bajak laut dan pemburu kepala, ada juga cerita-cerita magis masyarakat adat mengenai dewa dewi penjaga alam dan ritual akan kelahiran hingga kematian.

Masyarakat etnis yang sangat beragam di Sabah membuat saya tertarik untuk menelusuri narasi, folklore ataupun mitos yang diwariskan secara turun temurun melalui tradisi rinait (chanting). Saya meyakini bahwa interaksi kultural yang terjadi tidak hanya melalui perdagangan dan politik antar bangsa, namun sastra lisan juga menjadi medium penting bagi masyarakat Sabah dalam mewariskan nilai. Proses pewarisan nilai ini tentu erat kaitannya dengan etika dan aturan sosial yang harus dilakukan oleh masyarakat lokal ataupun para pendatang, terutama saya ingin menelisik bagaimana posisi perempuan dalam narasi-narasi tersebut.

Pertemuan saya dengan Yee-I Lann di Kotak 8 Sireh, di Tanjung Aru merupakan sebuah permulaan dari penelusuran saya. Ia merupakan seorang Kadazan dan neneknya merupakan seorang Bobohizan (pemimpin spiritual). Masyarakat etnis di Sabah sesungguhnya masih menjalankan ritus yang dijalankan oleh Bobohizan atau Bobolian dalam pelbagai keperluan hidup mulai dari kelahiran, pernikahan, kematian, bercocok tanam dan merayakan hasil panen, pengadilan adat, mereka juga dikenal sebagai seorang penyembuh karena mempunyai kemampuan dalam meramu obat-obatan. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah mayoritas orang yang terpilih menjadi Bobohizan adalah perempuan.

Mereka melakukan rinait, yaitu narasi yang menjadi sumber pengetahuan dan kebijaksanaan yang diwariskan secara turun temurun melalui mantra atau lantunan puja-puji terhadap Tuhan dan alam. Peran Bobolian ini membuat saya meyakini bahwa kebijaksanaan dan kebudayaan timur telah memiliki sistem kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Pekerjaan yang mereka lakukan memang tidak sama, namun peran yang mereka lakukan dianggap penting dalam menjaga keharmonisan dalam hubungannya dengam alam, manusia dan Tuhan. Jika pada masa lalu para laki-laki menjadi pejuang dengan pergi berperang, perempuan pun sama, bagi orang Kadazan perempuan adalah pejuang di dunia roh.   

Alam menjadi narasi yang sangat sentral di Sabah, terutama dalam representasi yang feminin. Hipotesa ini muncul tidak hanya setelah saya mengunjungi Arkib Negri Sabah dan mengakses arsip folklore yang dihimpun oleh para penulis dalam koran-koran tua. Cerita-cerita ini didapatkan dari tokoh yang dipercaya atau yang diwariskan serta mengetahui narasi tersebut. Sebagian besar dari narasi tersebut menceritakan tentang muasal alam semesta, mitos, legenda serta cerita yang bersifat tabu. Kebanyakan menghadirkan pesan moral didalamnya secara eksplisit, namun ada juga yang bersifat rahasia (hanya diketahui oleh tetua adat atau cerita yang hanya bisa diceritakan kepada laki-laki, barangkali ini erat juga kaitannya dengan seksualitas).

I-Lann juga menceritakan sebuah kisah yang diwariskan oleh neneknya mengenai dewa Kinoingan dan istrinya Suminundu  yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Huminodun. Kecantikannya diabadikan dalam puisi dan rinait serta dalam sebuah festival panen raya yang dilakukan setiap tahunnya di Sabah yaitu festival Kaamatan (upacara perayaan khusus untuk menghormati spirit padi), dimana dalam rangkaian acaranya para Bobohizan melantunkan puisi dan mendoakan kesuburan tanah untuk panen berikutnya. Unduk Ngadau (perempuan yang dinobatkan sinar matahari) juga menjadi acara utama festival Kaamatan dimana ratusan perempuan Kadazan berkompetisi menjadi yang terbaik untuk menjadi representasi Hunimodun, kurang lebih semacam kontes kecantikan. Setelah tujuh hari dari Unduk Ngadau muncul kepercayaan bahwa pemenang dari kontes tersebut merupakan jelmaan dari Hominodun.

Tampaknya cerita mengenai Hominodun diglorifikasi sedemikian rupa dan masyarakat memiliki euphoria yang sangat tinggi terhadap jelmaan spirit padi ini, maka Unduk Ngadau telah dilakukan sejak 1959 hingga saat ini. Namun inti dari cerita Hominodun bukanlah dari kecantikannya, melainkan mengenai bagaimana tubuhnya di korbankan oleh ayahnya, dewa Kinoingan (dalam versi yang lain oleh Suminundu). Dari ujung rambut hingga kaki, seluruh tubuhnya dipersembahkan untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana kekeringan dan kelaparan. Setelah jasadnya disemayamkan, kemudian tumbuhlah berbagai macam jenis tumbuhan yang menjadi sumber makanan suku Kadazan. Padi, kelapa, tebu, jangung, labu, pakis dan lain-lain, dipercaya sebagai jelmaan Hominodun. Pengorbanannya kepada bumi inilah yang menjadi spirit agrikultur masyarakat di Sabah, dengan kata lain alam juga direpresentasikan dengan tubuh perempuan.

Kesempatan selanjutnya saya berinisiatif mengunjungi kantor penerbitan Sabah Society Journal setelah menemukan beberapa jurnal  tahun 1983 di toko  barang antik di pasar minggu Jalan Gaya. Sabah Society Journal telah berdiri lebih dari 60 tahun yang banyak meneliti dan menuliskan kajian mengenai Sabah baik dari segi sejarah, antropologi dan arkeologi yang sekaligus menjadi ruang untuk mengarsipkan data-data sosial dari masyarakat Sabah. Dari arsip-arsip tersebut, saya menemukan sejumlah teks yang menunjukkan adanya persebaran narasi di Sabah yang dipengaruhi oleh kultur-kultur wilayah di sekitarnya.

Pada edisi Jurnal yang saya peroleh secara tidak sengaja ini ternyata menganalisis persebaran narasi dan folklore yang ada di Sabah. Edisi dalam jurnal ini menjadi benang merah untuk menggali lebih dalam mengenai sastra lisan yang ternyata bersifat arketip dengan folklore yang ada di Bali dan juga ditemukan dalam kebudayaan Nusantara. Misalnya cerita mengenai larangan untuk tidak makan penyu mempunyai kemiripan dengan kepercayaan di Bali untuk tidak memakan hewan tersebut sebagai konsumsi sehari-hari karena dianggap hewan yang suci. Dari beberapa ritual yang ada di komunitas adat Kedazan, Murut, dan Ranau juga mempunyai kemiripan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yang ada di Nusantara, khususnya di Bali.

Menelusuri narasi tentang posisi perempuan dalam konsteks sosio historis di Sabah, tentu tidak mungkin dilakukan tanpa melihat realitas sosial yang terjadi hari ini. Seperti apa wajah perempuan di kota Sabah hari ini, merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa yang terjadi di masa silam. Melalui I-Lann saya terhubung dengan SAWO (Sabah Woman’s Action-Resource Group) dan Bentara Kata. SAWO merupakan sebuah organisasi perempuan yang telah berdiri sejak tahun 1985 yang banyak bergerak di isu keadilan gender, menolak adanya kekerasan terhadap perempuan dan  pernikahan anak usia dini. Saya bertemu Winnie Yee salah seorang founder SAWO yang telah banyak memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak, terutama menolak adanya pernikahan anak usia dini.

Angka pernikahan anak di usia dini menurut Winnie masih cukup tinggi karena sistem adat beberapa etnis di Sabah memperbolehkan usia pernikahan bahkan ketika anak perempuan baru mengalami menstruasi. Beberapa kasus pernikahan anak juga terjadi karena kesulitan ekonomi seperti anak penduduk migran yang tidak mendapatkan legalitas sebagai penduduk Malaysia sehingga mereka tidak bisa memperoleh pendidikan dan mendapatkan fasilitas kesehatan. Pernikahan dengan penduduk asli menjadi satu-satunya pilihan untuk kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan bekerja menjadi buruh serabutan dengan gaji yang sangat kecil.  

Selanjutnya saya berkesempatan untuk mengikuti workshop yang bertajuk Keadilan Gender dalam Wacana Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan oleh kolektif Bentara Kata, sebuah kolektif feminis yang aktif menyuarakan isu-isu kesetaraan dan keadilan gender di Sabah, mereka juga aktif mengadakan Woman’s March setiap tahunnya. Dalam acara workshop ini, pemateri yang diundang salah satunya adalah SIS (Sisters In Islam), sebuah organisasi feminis yang berlokasi di Kuala Lumpur. Materi yang mereka bawakan sangat menarik karena mewacanakan konteks feminisme di Malaysia dalam lingkup masyarakat yang mayoritas muslim melalui mekanisme interpretasi ulang terhadap tafsir Al-Quran pada tema-tema seputar seks, gender dan seksualitas.

Menutup perjalanan di Sabah, saya bersama I-Lann mengunjungi Angelica Suimin, salah seorang Bobohizan dan peneliti folklore yang menjadikan pengalaman saya selama di Sabah menjadi komplit. Angelica menyempurnakan fragmen-fragmen informasi yang saya dapatkan sebelumnya sekaligus menjelaskan konteksnya secara lebih mendalam. Terutama mengenai peran Bobohizan di ranah kultural dan upaya mereka mempertahankan diri dari menguatnya politik identitas oleh kelompok mayoritas masyarakat muslim di Malaysia. Karena keberlangsungan peran Bobohizan juga berarti kelanjutan bagi khazanah ritual dan folklore yang telah diwariskan secara turun temurun bagi orang-orang Sabahan. 

Sabah memiliki khazanah pengetahuan masa lalu yang melimpah jumlahnya. Hingga kini khazanah tersebut masih berjalan melalui ritual dan sastra lisan sebagai medium pewarisan nilai antar generasi, meskipun seiring waktu juga mengalami perubahan seiring konteks zaman yang terefleksikan melalui kehidupan sosial di Sabah hari ini. Sebagai wilayah serumpun, Sabah dan Bali (tempat saya berasal) hidup dalam konteks dan problematika  sosial yang hampir serupa. Masyarakat yang hidup secara kultural harus berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah berbagai tantangan sosial dan politik, seperti menguatnya politik identitas ataupun pembangunan ekonomi secara terpusat. Melalui narasi-narasi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun di setiap lingkup kebudayaan, masyarakat telah hidup dan membangun landasan pengetahuannya sesuai dengan konteks yang dihadapinya selama ini.

5 Agustus 2019

Citra Sasmita, perupa berdomisili di Bali